GAUKANG KARAENG GALESONG; BENTUK SOLIDARITAS MASYARAKAT GALESONG DALAM MENJAGA BUDAYA

Oleh: Rahardi
(Peserta Lomba Menulis Konten Budaya Lokal Tahun 2020)

Takalarterkini.com, – Galesong. Gaukang Karaeng Galesong adalah salah satu bentuk eksistensi budaya yang masih bertahan di kalangan masyarakat Galesong. Gaukang ini merupakan upacara adat yang di gelar setiap tahunnya pada hari kamis sampai malam jum’at akhir bulan Rajab untuk memperingati temuan Karaeng Galesong berupa benda yang terdampar di pulau Sanrobengi (salah satu pulau di Kec. Galesong).

Salah Satu Bagian Dari Kegiatan Gaukang Karaeng Galesong

Salah Satu Bagian Dari Kegiatan Gaukang Karaeng Galesong

Pemangku Adat setempat Karaeng Ma’ja menceritakan, dahulu ada seseorang yang menemukan benda aneh yang setiap malam kamis dan jum’at selalu mengeluarkan suara gandrang (gendang), pui’-pui’, dan royong (sastra lisan Makassar yang berupa nyanyian atau mantra).

“Benda tersebut adalah benda yang berada didalam sepotong bambu. Saat itu Karaeng
Galesong mencoba membuka dengan cara memotong, membakar, dan lain-lain. Namun tidak berhasil, pada akhirnya dimalam jum’at akhir bulan rajab benda tersebut bersinar. Kemudian Karaeng Galesong berdo’a semoga benda tersebut terbuka. Akhirnya bambu itu terbuka dan muncul sebuah Keris Pusaka. Setelah dicari tahu asal keris pusaka tersebut ternyata dari kerajaan Sawitto” jelas Karaeng Ma’ja’ saat diwawancarai pada Senin, 19/10/2020.

Untuk memperingati temuan tersebut, hadirlah sebuah perayaan Gaukang Karaeng Galesong, dengan mengundang pejabat-pejabat untuk hadir dan mengikuti acaranya.

Gaukang, Rangkaian perayaan Gaukang Karaeng Galesong ini dimulai dari kegiatan yang disebut Appalili’ dimana masyarakat Galesong dan pemangku adat berkeliling disekitar Balla’ Lompoa (Rumah Adat).

Adapun urutan barisan dari depan kebelakang dimulai dari seekor sapi/hewan kurban, kemudian di ikuti oleh Anrong Guru dan Pinati. Anrong guru dan Pinati akan menebar bente (beras yang telah diolah) disertai dengan do’a bertujuan untuk membawa kesejahteraan dan menolak bala. Kemudian diikuti oleh Pagandrang dan Papui’-pui’ yang membawakan alunan musik tradisional. Lalu ada yang disebut Bembengang yaitu putri keturunan Karaeng yang akan di khitan kan, sebelum di khitankan dia terlebih dahulu di arak selama proses Appalili’.

Kemudian dibarisan berikutnya ada pabajubodo le’leng biasanya adalah orang tua karena baju bodo le’leng; (pakaian adat perempuan Makassar) merupakan hal yang sudah hampir terlupakan karna modernisasi baju bodo menjadi berbagai warna.

Kemudian disusul oleh pengguna baju adat seperti jas tutup, baju bodo, dan lain-lain. Saat Appalili’ dilaksanakan, di tengah perjalanan biasanya rombongan terlebih dahulu singgah di salah satu sumur yang dikenal dengan Bungung Barania (sumur keberanian) untuk mengambil airnya yang dipercaya bisa mengalirkan kabaraniang (keberanian).

Hal unik dari sumur ini adalah walaupun sumurnya terletak di pinggir laut, airnya tidak asin seperti air di rumah-rumah warga disekitarnya.

Setelah proses Appalili’ kemudian memasuki acara hiburan. Dimana pejabat-pejabat dan tamu-tamu undangan akan dihibur dan disambut dengan Aru, sekaligus berbagai jenis tari-tarian seperti tari pattennun, tari patorani, dan tari-tari lainnya. Kemudian ada juga atraksi Pamanca’ (pencak silat).

Acara hiburan ini berlangsung seharian dari pagi setelah Appalili’ hingga sore diikuti pembagian makanan. Kemudian ada pelaksanaan dzikir dimalam harinya
yang menutup rangkaian dari Gaukang Karaeng Galesong.

Dibalik kemeriahan acara Gaukang Karaeng Galesong ada hal yang tidak bisa kita abaikan, hal tersebut ialah antusias masyarakatnya.

“Tiga hari sebelum Gaukang itu dilaksanakan, orang-orang Galesong sudah banyak yang membawa telur, pisang, beras, dan segala macam untuk digunakan dalam acara Gaukang Karaeng Galesong. Bahkan untuk sapi, dan kambing itu biasanya ada sumbangan dari pejabat-pejabat dan kepala-kepala kepolisian” ungkap Karaeng Ma’ja’ saat melanjutkan pembahasannya.

Dari sini kita dapat belajar bahwa sebagai bangsa yang telah erat dengan kebudayaan kita memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.

Masyarakat Galesong telah memperlihatkan
kepada kita bagaimana solidaritas dapat menjaga warisan budaya agar tidak tergerus oleh perkembangan jaman. Terbukti dari Gaukang Karaeng Galesong yang tetap lestari, bahkan sampai pada perayaan yang ke 259 tahun, dan pastinya akan tetap berlanjut.

Penulis: Rahardi

GAUKANG KARAENG GALESONG; BENTUK SOLIDARITAS MASYARAKAT GALESONG DALAM MENJAGA BUDAYA

About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>