Akkaddo Bulo;  Tradisi Kuliner Lokal Pasca Panen

Abdul Jalil Mattewakkang
(Peserta Lomba Menulis Konten Budaya Lokal Tahun 2020)

Takalarterkini.com, – Takalar. Pesta Panen merupakan salah satu tradisi dan budaya lokal yang hidup berkembang sejak dulu dan tetap terjaga kelestariannya. Salah satu tradisi budaya lokal yang masih tetap terjaga yakni Pesta Panen Akkaddo Bulo yang dirayakan oleh masyarakat Desa Bontomangape, Desa Kalenna Bontongape dan Desa Parambambe.

Hamparan Padi Menguning Bersiap Untuk Di Panen

Hamparan Padi Menguning Bersiap Untuk Di Panen

Dalam sejarah, ketiga desa ini secara turun temurun menggelar kegiatan Akkaddo Bulo setelah pelaksanaan panen di musim penghujan.

Pesta panen ini pada waktu dulu ketika dilakukan banyak mengundang kerajaan dari daerah lain, diantaranya ada dari jeneponto yang membawa kudanya dan dari beberapa kerajaan lainnya.

Proses Memasukkan Beras Ketan Ke Dalam Bambu Muda Yang Telah Dilapisi Daun Pisang

Proses Memasukkan Beras Ketan Ke Dalam Bambu Muda Yang Telah Dilapisi Daun Pisang

Dalam perayaan ini ada hiburan didalamnya. Hiburan itu berupa sabung ayam dan pacu kuda. Ada makna di balik kedua hiburan tersebut, sabung ayam menandakan sebagai bentuk keberanian yang dapat dilihat dari ayam, dan karena itu jugalah Sultan Hasanuddin mendapat gelar Ayam jantan dari timur. Sementara pacuan kuda ini berfungsi sebagai saluran bekas dari pacuan kuda tersebut.

Bambu Yang Telah Diisi Beras Ketan)

Bambu Yang Telah Diisi Beras Ketan)

Dibuatlah pesta panen oleh nenek moyang kita terdahulu sebagai bentuk rasa syukur dan sebagai bentuk sedekah yang merupakan bentuk amal jariah bagi orang pintar yang pernah membuat sawah sebagai suatu hal yang bermanfaat.

Pesta panen yang dilakukan setahun hanya sekali itu dikarenakan orang tua pada zaman dahulu hanya satu kali panen dalam setahun. Untuk mengetahui bahwasanya bakal diadakan pesta panen pada zaman dahulu maka diadakanlah paddekko sebagai tanda bahwa kita telah panen dan akan di adakan pesta panen pada seminggu berikutnya. Pesta panen dilakukan pada saat panen musim kemarau.

Proses Pembakaran Kaddo Bulo

Proses Pembakaran Kaddo Bulo

Akkaddo Bulo sendiri merupakan kuliner lokal dengan bahan dasar beras ketan dan dimasak dalam bambu muda yang dilapisi daun pisang serta dicampur perasan santan yang sebelumnya telah dicampur bumbu dapur.

Awal mula pelaksanaan pesta panen Kaddo Bulo menurut para tokoh masyarakat ialah ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Uangkapan itu kemudian dibalut dengan perayaan pesta panen dengan mengundang sanak keluarga baik yang jauh dan dekat untuk sama-sama menikmati kuliner Kaddo Bulo tersebut.

Sebelum pelaksanaan Kaddo Bulo, beragam ritual adat dilakukan kala itu, semisal ada perlombaan kuda, ada tradisi appala tangngara (pamitan) ke Panrita (tokoh adat) untuk menggelar kegiatan Akkaddo Bulo.

Selain itu, ada juga kegiatan mengunjungi salah satu makam yang konon katanya merupakan sosok yang paling pertama mempopulerkan dan memprakarsai adanya Pesta Panen Akkaddo Bulo yakni Karaeng Bone-Bone, Karaeng Bobojangan dan Karaeng Jeraklabbua.

Memantau Proses Pembakaran Kaddo Bulo

Memantau Proses Pembakaran Kaddo Bulo

Tradisi-tradisi adat inilah yang menandai akan dilaksanakannya pesta panen Akkaddo Bulo di 3 desa tersebut.

Pesta panen ini ditandai dengan sibuknya masyarakat setempat mempersiapkan segala hal yang menjadi ritual adat pesta panen Akkaddo Bulo.

Kaddo Bulo Sudah Matang, Siap Untuk Dihidangkan

Kaddo Bulo Sudah Matang, Siap Untuk Dihidangkan

Menebang pohon bambu muda, memetik daun pisang muda, memarut kelapa, mencuci beras ketan, membersihkan semua perlengkapan hingga proses menyiapkan lokasi pembakaran Kaddo Bulo.

Setalah itu, potongan-potongan bambu tadi kemudian diisi dengan belahan daun pisang. Diisi dengan beras ketan (hitam/putih) terus diberi air santan lalu ditutup dengan potongan-potongan daun pisang dan diikat dengan lidi.

Selanjutnya proses menyiapkan media dan alat pembakaran. Setalah dilakukan pembakaran sekitar 5-7 jam. Lalu sesekali membolak-balikkan posisi kaddo bulo. Agar matangnya merata.

Setelah matang barulah dihidangkan dengan lauk pauk pilihan. Kadang pula diberi bumbu tambahan seperti sambala kaluku (campuran parutan kelapa dan penyedap rasa).

Sanak keluarga yang telah diberi tahu sebelumnya pun telah berdatangan untuk merayakan ritual pesta panen ini. Kebahagian, canda tawa dan berbagi cerita menjadi bahagian dari pelaksanaan Akkaddo Bulo ini.

Sejatinya, pesta panen Akkaddo Bulo merupakan tradisi lokal yang harus dilestarikan dan dilindungi. Generasi muda pun harus dilibatkan agar bisa menjadi bagian terdepan dalam melestarikan budaya lokal ini.

Semoga lewat tulisan ini dapat menjadi inspirasi agar kita senatiasi termotivasi melindungi dan melestraikan budaya lokal daerahnya.

Penulis: Abdul Jalil Mattewakkang

Akkaddo Bulo; Tradisi Kuliner Lokal Pasca Panen

About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>