Mencari Jejak Leluhur Karaeng Naba Di Bumi Jogja

(Wawancara Khusus Dengan Turunan Ke 7 Karaeng Naba)

Takalarterkini.com, – Yogyakarta. Dalam sebuah perjalanan wisata ke Sleman Yogyakarta, kami tak sengaja bertemu dengan sosok wanita karir yang ternyata merupakan turunan asli Karaeng Naba yang merupakan cucu Karaeng Galesong anak dari Sultan Ibrahim menantu (anak) dari Karaeng Galesong.

Makam Karaeng Naba

Makam Karaeng Naba

Sosok wanita karir ini berkantor sebagai seorang jaksa. Menempati orang nomor satu di Kajari Kabupaten Bantul Yogyakarta. Nama lengkap beliau ialah Hj. Nur Asiah DS, SH., M.Hum (turunan ke 7 Karaeng Naba merupakan penduduk asli Pattallassang Kabupaten Takalar) anak dari pasangan H. Mangellai DS, SH dengan Hj. Hasiah Dg. Ngasseng. Memiliki 5 suadara akn tetapi saudara ke 4 meninggal sewaktu merantau di Papua (baca Irian Jaya dulu).

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bantul Yogyakarta ini pun menceritakan jejak sejarah dan kebaradaan Karaeng Naba di Sleman Yogyakarta hingga turunannya. Sosok orang nomor satu di Kajari Bantul ini merupakan anak dari mantan Wakajati Sulsel era 1999 s/d 2002 yang bernama H. Mangellai DS, SH.

Hj. Nur Asiah DS, SH., M.Him Kajari Bantul Yang Merupakan Turunan Ke 7 Karaeng Naba

Hj. Nur Asiah DS, SH., M.Him Kajari Bantul Yang Merupakan Turunan Ke 7 Karaeng Naba

Selama ini, turunan dari Dato Naba sapaan kami but mendiang Karaeng Naba, yang merupakan putra Raja Bima yang bernama Sultan Ibrahim dengan ibunya putri dari Raja atau Karaeng Galesong.

Selama ini turunannya beliau dari Takalar dan Galesong. Selama ini beliau di anggap hanya berjuang dalam menyiarkan agama islam di Makassar saja, ternyata tdk!.

Kajari Bantul (Turunan Ke 7 Karaeng Naba) Saat Mengantar Salah Satu Warga Takalar Ke Makam Karaeng Naba

Kajari Bantul (Turunan Ke 7 Karaeng Naba) Saat Mengantar Salah Satu Warga Takalar Ke Makam Karaeng Naba

Jejak-jejak perjuangan beliau ada di tanah Jawa yang merupakan kerajaan terbesar di Nusantara yakni Kerajaan Mataram, dimana sebelum Dato, ditanah Jawa itu ada kerajaan besar Majapahit dengan Panglima terkenalnya Gajah Mada.

Beliau lanjut terus bercerita bahwa panglima perang Majapahit dengan bukti sejarah dulu berguru pada Panglima Perang dari Kerajaan Bima. Yang bukan saja memiliki pasukan perang manusia tapi juga memiliki pasukan perang dari bangsa jin (konon katanya). Guru Gajahmada itu bernama “Abung Gambi”. Jejak kaki Gajah Mada masih ada dan dengan jelas pada gunung tertinggi di Bima yaitu Gunung Dho’roo.

Beberapa Teks Naskah Jejak Sejarah Karaeng Naba

Beberapa Teks Naskah Jejak Sejarah Karaeng Naba

Untuk bisa naik keatas gunung tersebut butuh waktu 8 jam dengan jalan kaki, melewati hutan yang lebat. Hanya orang-orang tangguh yang mampu kesana.

Guru Gajah Mada yang merupakan Panglima perang kerajaan Bima pada masa berkuasanya kakek dan ayah Sultan Ibrahim, terkenal sakti mandraguna. Sekali melangkah dari Makassar bisa sampai ke Kerajaan Bima. Sampai kini tidka ada satupun bukti sejarah, kuburan ataut makam dari Abung Gambii, hilang lenyap tanpa bekas atau yang lebih dikenal dengan Moksa (bahasa orang Bima).

Berziarah Ke Makam Karaeng Naba Di Sleman Yogyakarta

Berziarah Ke Makam Karaeng Naba Di Sleman Yogyakarta

Ketika perang berkecamuk di tanah Bumi Dhombojo, Raja Bima “Sultan Ibrahim”, pecah kapalnya akibat hantaman meriam tentara Belanda dan akhirnya Sultan Ibrahim terdampar di tepi pantai wilayah Kerajaan Galesong (Karaeng Galesong). Melihat fisik dan aura Sultan Ibrahim, Raja Galesong (Karaeng Galesong) memiliki keyakinan bahwa orang yang terdampar tersebut bukanlah orang sembarangan, bukan rakyat jelata. Oleh Raja Galesong (Karaeng Galesong) di tampung di istana Raja Galesong.

Suatu ketika Raja Galesong melihat Sultan Ibrahim sedang berwudhu, beliau bertanya dan di jelaskan oleh Sultan Ibrahim kalau itu langkah awal bersuci untuk menghadap sang khalik, penguasa bumi dan seisinya.

Saat Meninggalkan Kompleks Makam Karaeng Naba

Saat Meninggalkan Kompleks Makam Karaeng Naba

Sejak melihat Sultan Ibrahim berwudhu, Raja Galesong mulai mempelajari Islam dan akhirnya memeluk agama Islam. Dan Sultan Ibrahim dinikahkan dengan putri Raja Galesong dan akhirnya menetap di Galesong serta tidak kembali lagi ke Bima.

Beliau lanjut terus bercerita, Tergerak dari rasa penasaran, siapa gerangan pemilik makam yang batu nisannya dari waktu ke waktu bertambah tinggi. Seorang anak muda yang bernama Mangellai Daeng Silele, mulai mencari tahu. Mulai mengumpulkan informasi dari orang tuanya, kerabat dekat yang sudah sepuh dan ketika Mangellai Daeng Silele menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Maros, menyelidiki pemilik makam tersebut dari cerita keturunan Raja Gowa (Andi Ijo) yang pada akhirnya memperkenalkan dengan keturunan Raja Galesong pemegang buku silsilah Raja Galesong.

Ibu Kajari Bantul Bersama Tokoh Masyarakat Takalar (Zainuddin Detol)

Ibu Kajari Bantul Bersama Tokoh Masyarakat Takalar (Zainuddin Detol)

Saling berpelukan dengan penuh rasa haru, karena masih sama-sama kerabat dekat. Hanya terpisah oleh waktu dan kesibukan. Keyakinan ini muncul dengan diperlihatkannya pusaka keris dan pusaka lainnya.

Dato bernama Muh Basir Karaeng Naba. Yang jadi masalah dan masih belum jelas asal ayahanda dari Dato kami.

Pencarian semakin gencar dilakukan oleh Mangellai Daeng Silele ketika menjabat sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel. Mangellai Daeng Silele semakin intens menyelidiki bersama-sama keturunan Raja Galesong tersebut.

Ada catatan yang menyebutkan kalau ayahanda Dato (Karaeng Naba) berasal dari Nusa Tenggara Barat (Bima).Tapi yang mana, soalnya di NTB ada 3 kerajaan yakni Kerajaan Lombok yang tunduk pada Raja Bali, Kerajaan Sumbawa dan Kerajaan Bima.

Tutupnya saat menemani bersiarah ke Makam Karaeng Naba dan beberapa tokoh pahlawan nasional lainnya di kompleks makam tersebut.

Reporter: Detol
Editor: AJM

Mencari Jejak Leluhur Karaeng Naba Di Bumi Jogja

About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>