Tradisi Dan Eksistensi Kuliner “Akkaddo Bulo” Di Desa Parambambe

Ditulis dalam rangka mengikuti “Lomba Cerita Budaya Desaku Tahun 2021”

Takalarterkini.com, – Parambambe. Desa Parambambe merupakan salah satu desa dari 14 desa yang ada di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Sebuah desa dengan jumlah penduduk +/_ 3.000 orang ini memiliki potensi di bidang pertanian. Memiliki 5 dusun yakni Dusun Parambambe, Dusun Ma’minasa, Dusun Paku, Dusun Masino dan Dusun Batetanaya. Desa ini tiap tahunnya banyak dikunjungi masyarakat luar dengan tradisi kebudayaan lokalnya yakni “Akkaddo Bulo”.

Tradisi pesta panen “Akkaddo Bulo” sudah menjadi tradisi tahunan di Desa Parambambe yang masih tetap dipertahankan. Selain mengandung unsur kesejarahan, tradisi ini juga menjadi ciri dan simbol rasa kesyukuran masyarakat desa atas hasil panen pertanian. Gelaran tradisi pesta panen “Akkaddo Bulo” sudah menjadi budaya lokal yang turun temurun digelar masyarakat Desa Parambambe, setelah melaksanan panen raya.

Pesta panen “Akkaddo Bulo” (kuliner / makanan khas dari beras ketan dalam bambu), ini digelar sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah yang diberikan oleh sang pencipta. Lewat tradisi “Akkaddo Bulo” ini, masyarakat melestarikan nilai-nilai kearifan lokal daerahnya. Dimana di dalamnya memiliki pesan-pesan moral, salah satunya ialah pesan tentang nilai toleransi, persatuan, gotong royong dan rasa syukur.

Proses bertani sebelum masuk acara “Akkaddo Bulo” yakni, Appanaung Bine (Menabur Benih Padi). Menabur benih padi merupakan salah satu tahapan dalam proses menanam padi. Pesan-pesan kearifan lokal (pappasang) pada proses menabur benin ini ialah jika hendak menanam padi, maka didahului dengan menabur benih. Filosofi ini memberikan gambaran bahwa hidup ini harus senantiasa dimulai dengan niat. Appa’jeko atau membajak sawah merupakan proses yang harus dilalui sebelum dilakukan penanaman padi. Pesan budaya yang dapat diambil dari proses appajeko butta ialah bahwa kehidupan ini dinamis. Tak selamanya di atas, kadang kita harus bersiap untuk dibawah. Perpaduan air dan tanah hingga menjadi lumpur menandakan bahwa itulah wujud manusia.

Amukbu Bine atai mencabut benih padi merupakan tahapan dalam menanam padi. Benih yang telah disemai, selanjutnya di cabut (nibukbuki). Pesan moral yang dapat diambil dari kegiatan ammu’bu bine (mencabut benih padi) ini ialah bawah setiap manusia ada masanya (waktu hidup di muka bumi ini).

Annanang atau menanam padi merupakan tahapan paling utama dalam menghasilkan beras yang berkualitas saat panen. Ini dimulai dari pemilihan bibit. Pesan moral yang dapat diambil dari pelaksanaan menanam padi (aklamung ase) ini ialah setiap perbuatan yang kita lakukan selalu dimulai dari niat awalnya. Tak akan mungkin ada hasil yang didapat jika tak pernah menanam.

Akmasina atau mengairi sawah merupakan upaya perawatan yang dilakukan oleh para petani untuk padinya. Akmasina / Appanaik jekne ini menggunakan mesin pompa air sebagai medianya. Pesan moral yang dapat diambil dari kegiatan ini ialah bahwa manusia tak bisa hidup sendiri, butuh bantuan orang lain. Ammupuk Ase atau memupuk padi merupakan salah satu bentuk perawatan padi selanjutnya ialah proses pemupukan (ammupuk ase). A’racung Ase atau menyemprot hama padi dipandang sebagai salah satu perawatan lanjutan.

Attabbasa atau memanen padi secara umum padi dipanen saat berumur 80-110 hari apabila tanaman padi menunjukkan ciri-ciri berikut berarti tanaman sudah siap dipanen. Pesan moral pada kegiatan Attabasa Ase (memanen padi) ini ialah bahwa manusia dengan segala kelebihannya pasti memiliki kekurangan. Maka tak sepatutnya seorang manusia angkuh dan menyombongkan diri.

Akkatto Ase atau memetik ujung padi yang dalam bahasa Makassar Ulu Ase. Akkatto Ase merupakan salah satu tradisi lokal masyarakat saat memulai memanen padi. Pesan moral dan nilai kearifan lokal dari kegiatan Akkatto Ase ini ialah bahwa ikatan besar Ulu Ase sebagai simbol persatuan dan kesatuan (berbeda-beda tapi tetap sama) atau bhinneka tunggal ika. Angngalloi Ase atau menjemur padi dilakukan setelah proses panen telah usai. Hal ini agar padi yang telah panen tadi cepat kering.

Menumbuk padi yang dalam bahasa Makassar Addengka Ase merupakan sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat sebelum pesta panen Akaddo Bulo dimulai. Pesan moral dan nilai kearifan lokal yang dapat diambil dari kegiatan Addengka Ase ini ialah gerakan ayunan Alu dan suara lantunan Assung memberi simbol bahwa kehidupan ini butuh perjuangan.

Attapi Berasak atau membersihkan beras secara umum pekerjaan menampi beras dikerjakan oleh kaum hawa. Membersihkan beras dari kotoran, dari butiran pasir dan debu. Pesan moral atau nilai kearifan lokal yang tersimpan dalam pekerjaan Attapi Berasak ialah diibaratkan dalam kehidupan manusia, disaat digoncang permasalahan kehidupan mereka akan berkumpul sesama dan mencari teman sesama yang kita kenal dengan konsep Abbulo Sibatang (persatuan dan kesatuan).

Selain santapan Kaddo Bulo, pesta ini melibatkan pertunjukan Pamanca (tradisi seni beladiri), ritual Appaddekko (ritual membunyikan alat penumbuk padi) dan Empo Sipitangngarri (forum untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dialami masyarakat). Sebagai sebuah ekosistem budaya, pesta panen Akkaddo Bulo pun belum mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam hal upaya peningkatan ekonomi secara kreatif.

Akkaddo Bulo sendiri merupakan kuliner lokal dengan bahan dasar beras ketan dan dimasak dalam bambu muda yang dilapisi daun pisang serta dicampur perasan santan yang sebelumnya telah dicampur bumbu dapur. Awal mula pelaksanaan pesta panen Kaddo Bulo menurut para tokoh masyarakat ialah ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Ungkapan itu kemudian dibalut dengan perayaan pesta panen dengan mengundang sanak keluarga baik yang jauh dan dekat untuk sama-sama menikmati kuliner Kaddo Bulo tersebut.

Sebelum pelaksanaan Kaddo Bulo, beragam ritual adat dilakukan kala itu, semisal ada perlombaan kuda, ada tradisi appalak tangngara (pamitan) ke Panrita (tokoh adat) untuk menggelar kegiatan Akkaddo Bulo. Pesta panen ini ditandai dengan sibuknya masyarakat setempat mempersiapkan segala hal yang menjadi ritual adat pesta panen Akkaddo Bulo.

Menebang pohon bambu muda, memetik daun pisang muda, memarut kelapa, mencuci beras ketan, membersihkan semua perlengkapan hingga proses menyiapkan lokasi pembakaran Kaddo Bulo. Setalah itu, potongan-potongan bambu tadi kemudian diisi dengan belahan daun pisang. Diisi dengan beras ketan (hitam/putih) terus diberi air santan lalu ditutup dengan potongan-potongan daun pisang dan diikat dengan lidi.

Selanjutnya proses menyiapkan media dan alat pembakaran. Setalah dilakukan pembakaran sekitar 5-7 jam. Lalu sesekali membolak-balikkan posisi kaddo bulo. Agar matangnya merata. Setelah matang barulah dihidangkan dengan lauk pauk pilihan. Kadang pula diberi bumbu tambahan seperti sambalak kaluku (campuran parutan kelapa dan penyedap rasa) dan dimakan bersama dengan sanak keluarga.

Berdasarkan data tutur dari Pinati (pemuka adat) dan tokoh adat di Desa Parambambe bahwa disaat awal mula digelarnya perayaan pesta panen kaddo bulo terdapat beberapa kegiatan atau prosesi sebelum, saat dan setelahnya. Tradisi tersebut yakni Appalumba Jarang atau balap kuda merupakan salah satu tradisi yang diadakan setiap tahun ialah Akkaddo Bulo. Appalumba Jarang sendiri dilakukan di area persawahan (kala itu). Kegiatan ini menjadi salah satu penanda dimulainya tahapan-tahapan tradisi perayaan pesta panen Akkaddo Bulo di Desa Parambambe.

Pesan budaya dari Appalumba Jarang (Pacuan Kuda) ini ialah dari aspek agama misalnya sebelum memulai palumbang jarang terlebih dahulu dilakukan aktivitas berdoa agar Allah SWT memberikan keberkahan dan keselamatan, sehingga tradisi pacuan kuda (Palumbang Jarang) berjalan dengan baik dan dapat terus dilestarikan. Tidak boleh bersifat angkuh atau sombong karena merupakan salah sifat tercela. Tidak boleh curang agar kemenangan yang diraih membawa dampak positif dan keberkahan. Bersifat sportif atau jujur (lambusu’).

Tradisi Palumbang Jarang ini saat ini sudah tdak lagi dilakukan. Selain karena kuda yang sudah jarang ditemui, lahan atau untuk melakukan kegiatan ini sudah tidak. Namun dibalik perayaan tradisi pesta panen Akkaddo Bulo masa lalu. Minimal disaat ini pesan-pesan moral dan nilai-nilai kearifan budaya lokal yang melekat di dalamnya tetap terpatri di masyarakat setempat.

Appadekko atau menumbuk gabah atau padi merupakan tindakan pelestarian dan pengembangan kebudayaa tradisional (lokal) memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dikalangan masyarakat. Perlu adanya partisipasi dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat setempat, termasuk tradisi Appadekko.

Appadekko merupakan salah satu tradisi masyarakat di Galesong, khususnya di Desa Parambambe saat merayakan pesta panen Akkaddo Bulo zaman dulu. Tradisi Appaddeko ini dijadikan sebagai pengungkapan rasa syukur pasca panen ke sang pemberi rezeki yaitu Allah SWT. Appadekko adalah seni dan budaya lokal dengan menumbuk gabah (padi yang sudah ni Katto) yang masih tetap dilaksanakan tiap tahun secara turun temurun khusus di Kabupaten Takalar, kegiatan Appadekko telah mendapat Muri di tahun 2017.

Appadekko yang merupakan salah satu rangkaian ritual dalam acara pesta panen Akkaddo Bulo di masa lalu digelar oleh warga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa (Allah SWT) yang telah memberikan limpahan rezeki berupa hasil panen. Seni menumbuk gabah (Ase ni Katto) atau beras ketan dalam tradisi ini bukanlah perkara mudah. Dengan menggunakan alu dan lesung kayu, pemainnya harus mampu menciptakan sebuah dentuman serta gerak yang seirama. Jika tidak, alu yang mereka gunakan bisa saling bertabrakan dan menghasilkan dentuman yang tidak terdengar berirama.

Uniknya lagi, meski para penumbuk gabah (ase ni katto) ini rata-rata sudah berusia paruh baya. Mereka tetap terlihat kuat dan bersemangat, walau alu yang mereka gunakan diatas lesung berisi gabah (ase ni katto). Lewat tradisi ini kembali kita diberikan pesan budaya dan niali kearifan lokal bahwa kita tidak boleh lupa bersyukur atas segala limpah rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Termasuk rezeki di bidang pertainan (panen padi).

Selain itu ada nilai pembelajaran moral yakni persatuan dan kesederhanaan atas dentuman irama alu dan lesung yang dimainkan. Hidup sederhan dan saling menghargai telah diajarkan nenek moyang kita terdahulu. Tradisi ini pada perayaan pesta panen Akkaddo Bulo sudah tidak menjadi sebuah keharusan lagi. Appadekko saat ini dilakukan sebatas pertujukan seni samata. Walau begitu, upaya-upaya untuk melestarikan tradisi budaya lokal ini tetap harus dilakukan. Khususnya ke generasi muda saat ini. Dimasukkan kedalam pembelajaran seni budaya di sekolah. Agar kebudayaan lokal ini tidak punah.

Tarian Mappadendang merupakan salah satu acara rangkaian kegiatan di dalam appadekko. Dimana diketahui bahwa Mappadendang ini adalah lagu. Namun dalam perkembangannya, diringi dengan tarian yang menggambarkan rasa syukur atas hasil panen. Dari penjelasan tersebut, diketahui pula bahwa tari Mappadendang dahulu sering digunakan dalam perayaan pesta panen Akkaddo Bulo. Tarian ini dbuat dalam rangkaian pesta panen termasuk untuk perayaan Akkaddo Bulo.

Acara ini menjadi ajang hiburan bagi para tamu yang hadir, karena di dalam Mappadendang mempertunjukkan beragam atraksi. Kegiatan ini menunjukkan suatu pernyataan sikap dan kebersamaan para petani dalam hal ini selalu bergotong royong. Setelah melaksanakan panen raya masyarakat lewat tradisi dari nenek moyangnya mengekpresikan rasa syukur kepada maha pencipta (Alllah SWT) yang telah memberikan hasil panen yang melimpah. Selain kegiatan digunakan juga sebagai penghargaan bagi para petani yang telah bekerja keras mengelolah usaha taninya.

Konsep yang diusung didalam tarian Mappadendang ini ialah semangat gotong royong yang dalam bahasa Makassar Abbulo Sibatang bagi para petani untuk menghasilkan sebuah kuliner lokal yang disebut Kaddo Bulo. Tarian Mappadendang biasanya dilakukan pada puncak acara Akakddo Bulo di masa lalu. Acara Akkaddo Bulo sebagai fokus rangkaian pesta panen rakyat terlebih dahulu dilakukan diskusi atau musyawarah yang dalam bahasa Makassar disebut Empo Sipitangarri. Setelah melaksanakan panen raya masyarakat melakukan tradisi ritual adat budaya sebagai rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan hasil panen yang melimpah.

Lewat nyanyian dan tarian Mappadendang kita kembali diberi pesan budaya lokal yakni berdendang, bermain kecapi dan bernyanyi merupakan cara memohon kepada Tuhan yang Maha Esa (Allah SWT) agar diberikan keselamatan. Selain itu menggambarkan bahwa hanya dengan bekerja keras tanpa berputus asa maka pekerjaan kita akan di berkahi oleh Tuhan (Allah SWT).

Akkatto Ase atau panen padi secara tradisional yakni hanya ujung padi yang diambil, yang dalam bahasa Makassar disebut Ulu Ase. Akkatto Ase merupakan penanda dimulainya panen. Tradisi ini telah menjadi budaya secara turun temurun. Tak semua masyarakat melakukan. Hanya orang tertentu. Biasanya pemangku adat (pinati pa’rasangan) atau tokoh adat setempat saja.

Tradisi Akkatto Ase dalam perayaan pesta panen Akkaddo Bulo menjadi salah ciri di masa lalu. Ulu Ase yang sudah dikumpul kemudian disimpan disuatu tempat tertentu (Pammakkang). Setelah mendapat informasi dari tokoh adat (pinati) bahwa besok akan dilaksanakan pesta panen Akkaddo Bulo maka Ulu Ase (gabah padi) ini dijemur untuk tumbuk (ni dengka) dalam ritual Appadekko. Akkatto Ase menggunakan alat khusus, dilakukan oleh orang tertentu.

Saat ini tradisi Akkatto Ase sudah jarang dilakukan. Padahal dalam pelaksanaannya memiliki banyak nilai-nilai kearifan lokal. Baik berupa pesan (Pappasang) atau tutur lokal serta tata cara melakukannya. Sejatinya kita harus menjaga dan melestarikan budaya-budaya lokal ini. Jangan sampai ia tergantikan oleh budaya luar. Padahal tradisi Akkatto Ase menjadi identitas bangsa atau daerah kita.

Empo Sipitangngarri atau duduk bersama untuk bermusyawarah merupakan salah satu ciri masyarakat Indonesia. Musyawarah dijadikan sebagai media untuk berdiskusi dan mencarikan solusi atas sebuah permasalahan. Masyarakat di Desa Parambambe menjadikan duduk bersama (Empo Sipitangarri) sebagai media menyelesaikan sebuah permasalahn. Termasuk dalam perayaan pesta panen Akkaddo Bulo. Sebelum penentuan hari dan tangal pelaksanaan biasanya antara pinati (tokoh adat) dengan pemerintah desa duduk bersama membahas masalah tersebut. Empo Sipitangarri menjadi salah satu ciri dalam perayaan pesta panen Akkaddo Bulo. Bagi masyarakat, musyawarah (Empo Sipitangarri) dipandang sebagai sebuah tradisi turun temurun.

Pamanca atau atraksi bela diri tradisional dikenal dengan nama A’manca’ dimana orang yang memiliki ilmu atau menguasai manca disebut pamanca’. A’manca’ diperkirakan telah ada di Sulawesi Selatan sejak abad ke 16. Kemahiran memainkannya merupakan salah satu bagian penting dari pertunjukan ini.

Disebut sebagai kekayaan rohani karena pewarisannya melalui orang tua dilengkapi dengan pangngisengang kabura’neang (ilmu kejantanan) seperti ilmu kebal terhadap senjata, maupun ilmu kebatinan lainnya. Pada masa kerajaan, A’manca’ terutama diperuntukkan bagi keluarga raja dan kaum bangsawan. Mereka dilatih sejak kecil agar dapat menguasai manca’ dan agar dapat disebut pamanca’. Di kalangan masyarakat biasa, pamanca’ menjadi orang-orang pilihan yang selalu berada di garis terdepan saat perang. Mereka digelari tobarani atau sang pemberani.

Termasuk di perayaan pesta panen Akkaddo Bulo masa lalu. Atraksi A’manca’ ditampilkan di depan para tetamu raja atau bangsawan Makassar saat itu. Menjadi pamanca’ artinya menguasai ilmu bela diri maupun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; bersifat jujur, berani, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, berjiwa satria, serta bersikap rendah hati. Sebagai sebuah atraksi budaya, A’manca’ dimainkan dengan mengenakan pakaian tradisional Makassar (pakaian adat) dengan diiringi tabuhan gendang dan gong.

Saat ini A’manca’ sebagai seni bela diri tradisi memang lebih banyak dipertunjukkan sebagai atraksi budaya yang bertujuan menghibur. Perkembangan dan pelestariannya pun diharapkan berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, khususnya sebagai media penumbuh kembang semangat sportifitas dan persatuan bangsa

Tradisi pesta panen Akkaddo Bulo di Desa Parambambe menjadi budaya lokal yang masih terjaga. Namun kita tentu berharap ada upaya-upaya berbeda promosi dan event kegiatan setiap tahunnya. Pelestarian dan perlindungan atas sesbuah eksistensi budaya lokal telah memiliki landasan hukum. Undang-undang pemajuan kebudayaan memberi ruang kepada siapa saja dalam mengembangkan budaya-budaya lokal di daerahnya.

Khusus perayaan pesta panen Akkaddo Bulo maka upaya-upaya konkrit yang mesti dilakukan ialah, Budaya lokal yang hidup dan berkembang di masyarakat secara turun temurun juga memiliki potensi untuk dipromosikan. Salah satunya budaya lokal pesta panen Akkaddo Bulo. Dengan keunikan dan geliat pelaksanaannya selama ini, maka tradisi budaya lokal ini memiliki potensi sebagai kegiatan promosi budaya lokal tahunan.

Festival kuliner dan budaya lokal menjadi salah satu sarana komunikasi dalam mempromosikan tradisi pesta panen Akkaddo Bulo. Festival dijadikan sarana event tahunan dan teragendakan dengan matang dan dinamis. Dengan adanya festival kuliner dan budaya lokal tahunan, maka kunjungan ke daerah akan lebih intens.

Desa wisata adalah suatu daerah tujuan wisata yang mengintegrasikan daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Tradisi ini sejatinya punya potensi di Desa Parambambe. Desa ini sejak dulu sampai sekarang telah rutin melakukan tradisi pesta panen Akkaddo Bulo. Kuliner lokal Kaddo Bulo memiliki potensi untuk dijadikan konsep Desa Wisata Kuliner.

Penulis: Abdul Fatta, Nursalam, Abdul Jalil, Muh. Alwi Nawawi & Satriana (Komunitas Rumah Literasi dan Penulis Indonesia)

Tradisi Dan Eksistensi Kuliner “Akkaddo Bulo” Di Desa Parambambe

About The Author
-

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>